Dalam sebuah lokakarya, seorang tokoh terkemuka gerakan nonpemerintah membuat analogi dengan budaya keraton di Jawa. Organisasi nonpemerintah (ornop) yang berkiprah di bawah, untuk meningkatan kualitas hidup masyarakat, punya fungsi yang unik. Yaitu sebagai bulan-bulanan rasa tidak senang aparat pemerintahan di daerah, bahkan di lapangan. Dianggap saingan berat yang dapat mematikan 'usaha'pemerintah sendiri. Ini sama dengan kedudukan sejenis mahluk istimewa dalam budaya keraton (Jawa), disebut untul-untul (huruf t menurut lidah Bali dan Aceh). Mereka para pengawal bangsawan Jawa.
Karena terpisah sama sekali dari komunikasi dengan rakyat banyak, kecuali melalui laporan petugas keraton sendiri, para bangsawan sering kesepian. Untuk diajak berbincang-bincang dan meramaikan suasana, diangkatlah untul-untul: tidak lagi menghibur secara aktif, melainkan secara pasif—dengan menyediakan badan sendiri sebagai sasaran pelampiasan. Dengan kata lain harus bersedia ditempeleng sekali-kali.
Sabtu, 10 April 1982
Sabtu, 03 April 1982
Dakwah Harus Diteliti
Sebenarnya sudah lama ada penelitian dakwah. Ada yang dilakukan pihak intel. Apa menghina pejabat tinggi? Apa menganjurkan pemberontakan? Mungkin menyuarakan gagasan berbau SARA? Apalagi contohnya sudah banyak - seperti kasus Imran. Bagai racun, dakwah yang diberikannya secara eksklusif kepada bekas anak buah sudah membuahkan perbuatan-perbuatan krimiminal.
Ada juga yang dilakukan sejumlah lembaga - seperti Kodi ( Koordinator Dakwah Islam ) DKI Jakarta Raya. Berapa masjid yang ada, dulu dan kini? Bagaimana dakwah dilakukan? Substansinya? Gayanya? Diseminarkan juga - seperti acara lokakarya 'Dakwah di Ibukota Tahun 2000' tahun lalu.
Juga pendidikan dakwah dipakai sebagai umpan untuk mengembangkan hasil kajian. Disamping itu diterbitkan sejumlah buku tentang cara-cara melakukan dakwah di kalangan berbeda-beda; narapidana, masyarakat gedongan, kaum ibu, remaja, begitulah seterusnya. Mudah-mudahan dakwah akan menjadi efektif.
Persoalannya justru di sini: efektifkah dakwah hingga saat ini? Apakah ukuran yang digunakan? Banyaknya pengunjung? Bukankah banyak di antara mereka mengantuk? Kalau diukur kehadiran mereka, bagaimana diterangkan pola perilaku mereka yang diluar forum dakwah, tidak berubah banyak? Paling banyak hanya beberapa aspek moralitas pribadi: pakai tutup kepala bagi wanita, rajin ke mesjid bagi sementara, getol mendermakan uang bagi yang kaya.
Seminar Palembang
Di sinilah perlu direnungkan hasil penelitian atas lima komunitas di luar Jawa, yang diseminarkan di Palembang baru-baru ini. Dari jawaban, umumnya responden ternyata menganggap hidup hanya untuk bekerja. Fungsi kerja umumnya mereka rumuskan sebagai mencari nafkah sedikit banyak dikaitkan dengan pertimbangan antar-ganerasional: untuk kepentingan anak-cucu. Kecil sekali orang menjawab bahwa hidup ini untuk beramal mengabdi .
Cukup mengejutkan, bukankah itu berarti kecilnya peranan agama dalam kehidupan komunitas-komunitas yang di teliti ? Kenyataan itu wajar, kalau ditafsirkan dari sudut lain : perhatian warga masyarakat masih terpusat pada upaya bertahan sekedar hidup. Maklumlah masih banyak yang berada pada tahap hidup di bawah garis kemiskinan mutlak.
Memang, di luar, dalam pengamatan lahiriah tampak muncul kebutuhan kepada ritus keagamaan dalam skala masif, seperti terbukti dari derasnya 'back to mosque' . Tetapi lalu muncul pertanyaan : apakah 'kebangkitan Islam' yang seperti itu sebenarnya bukan pelarian dari derita hidup, upaya 'politik burung unta" untuk melupakan persoalan nyata dengan mencari pelepasan spiritual?
Masih harus diteliti kembali korelasi antara banyaknya orang ke masjid, dan kesadaran beragama yang memiliki kedalaman iman serta keterlibatan yang lebih bermakna. Bukti paling nyata dari sikap memisahkan agama dari hidup, seperti terbukti dari hasil penelitian yang kita bicarakan disini, adalah tidak bertautnya sama sekali antara moralitas kemasyarakatan kita dan ajaran Agama.
Agama mengajarkan kesetiakawanan, padahal hidup masyarakat kita terungkap, oleh penelitian di atas,"menunjukkan lajunya proses individualisasi". Agama menghendaki solidaritas kuat antara berbagai lapisan masyarakat, tetapi yang dalam kenyataan sebaliknya yang terjadi. Kesenjangan besar antara si kaya dan si mikin adalah bukti paling kongkrit.
"Khatibin nas 'ala qadri'uqulihim", kata Nabi Muhammad: Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka. Sebuah pesan yang kedalaman isinya tidak pernah dicoba-mengerti secara tuntas oleh para juru dakwah. Bukankah diktum nabi itu justru mengharuskan kita menelaah pelapisan masyarakat tempat mereka hidup, untuk memungkinkan penyampaian pesan keagamaan secara tuntas? Bukan dalam bentuk luarnya - seperti gaya pidato yang penuh lelucon, yang mampu menyajikan hiburan bagi pengunjung. Tetapi dalam bentuknya yang hakiki, membicarakan persoalan kongkret yang sedang dihadapi.
Sekarang terasa kuat sekali, dakwah masih berwatak penciptaan solidaritas di permukaan. Sekedar melecut manusia agar berakhlak pribadi yang terpuji, mengikuti kerangka ritual yang ditetapkan faham masing-masing, dan menjanjikan hadiah surga atau siksa neraka. Ditambah "acara tetap": ketakutan kepada serangan kebudayaan modern dan sejumlah bahaya lain yang dianggap akan menghancurkan keyakinan agama.
Hasil penelitian diatas, tentang sedikitnya warga masyarakat yang menyatakan hidup bertujuan amal dan pengabdian menunjukkan betapa salahnya 'agenda dakwah' yang disebutkan terdahulu itu. Ternyata tujuan dakwah itu sendiri belum menjadi tujuan hidup bermasyarakat. Kalau demikian, bukankah harus disadari - oleh para pemikir dan penentu kebjaksanaan keagamaan Islam kita - bahwa efektivitas dakwah masih harus diteliti?
Ada juga yang dilakukan sejumlah lembaga - seperti Kodi ( Koordinator Dakwah Islam ) DKI Jakarta Raya. Berapa masjid yang ada, dulu dan kini? Bagaimana dakwah dilakukan? Substansinya? Gayanya? Diseminarkan juga - seperti acara lokakarya 'Dakwah di Ibukota Tahun 2000' tahun lalu.
Juga pendidikan dakwah dipakai sebagai umpan untuk mengembangkan hasil kajian. Disamping itu diterbitkan sejumlah buku tentang cara-cara melakukan dakwah di kalangan berbeda-beda; narapidana, masyarakat gedongan, kaum ibu, remaja, begitulah seterusnya. Mudah-mudahan dakwah akan menjadi efektif.
Persoalannya justru di sini: efektifkah dakwah hingga saat ini? Apakah ukuran yang digunakan? Banyaknya pengunjung? Bukankah banyak di antara mereka mengantuk? Kalau diukur kehadiran mereka, bagaimana diterangkan pola perilaku mereka yang diluar forum dakwah, tidak berubah banyak? Paling banyak hanya beberapa aspek moralitas pribadi: pakai tutup kepala bagi wanita, rajin ke mesjid bagi sementara, getol mendermakan uang bagi yang kaya.
Seminar Palembang
Di sinilah perlu direnungkan hasil penelitian atas lima komunitas di luar Jawa, yang diseminarkan di Palembang baru-baru ini. Dari jawaban, umumnya responden ternyata menganggap hidup hanya untuk bekerja. Fungsi kerja umumnya mereka rumuskan sebagai mencari nafkah sedikit banyak dikaitkan dengan pertimbangan antar-ganerasional: untuk kepentingan anak-cucu. Kecil sekali orang menjawab bahwa hidup ini untuk beramal mengabdi .
Cukup mengejutkan, bukankah itu berarti kecilnya peranan agama dalam kehidupan komunitas-komunitas yang di teliti ? Kenyataan itu wajar, kalau ditafsirkan dari sudut lain : perhatian warga masyarakat masih terpusat pada upaya bertahan sekedar hidup. Maklumlah masih banyak yang berada pada tahap hidup di bawah garis kemiskinan mutlak.
Memang, di luar, dalam pengamatan lahiriah tampak muncul kebutuhan kepada ritus keagamaan dalam skala masif, seperti terbukti dari derasnya 'back to mosque' . Tetapi lalu muncul pertanyaan : apakah 'kebangkitan Islam' yang seperti itu sebenarnya bukan pelarian dari derita hidup, upaya 'politik burung unta" untuk melupakan persoalan nyata dengan mencari pelepasan spiritual?
Masih harus diteliti kembali korelasi antara banyaknya orang ke masjid, dan kesadaran beragama yang memiliki kedalaman iman serta keterlibatan yang lebih bermakna. Bukti paling nyata dari sikap memisahkan agama dari hidup, seperti terbukti dari hasil penelitian yang kita bicarakan disini, adalah tidak bertautnya sama sekali antara moralitas kemasyarakatan kita dan ajaran Agama.
Agama mengajarkan kesetiakawanan, padahal hidup masyarakat kita terungkap, oleh penelitian di atas,"menunjukkan lajunya proses individualisasi". Agama menghendaki solidaritas kuat antara berbagai lapisan masyarakat, tetapi yang dalam kenyataan sebaliknya yang terjadi. Kesenjangan besar antara si kaya dan si mikin adalah bukti paling kongkrit.
"Khatibin nas 'ala qadri'uqulihim", kata Nabi Muhammad: Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka. Sebuah pesan yang kedalaman isinya tidak pernah dicoba-mengerti secara tuntas oleh para juru dakwah. Bukankah diktum nabi itu justru mengharuskan kita menelaah pelapisan masyarakat tempat mereka hidup, untuk memungkinkan penyampaian pesan keagamaan secara tuntas? Bukan dalam bentuk luarnya - seperti gaya pidato yang penuh lelucon, yang mampu menyajikan hiburan bagi pengunjung. Tetapi dalam bentuknya yang hakiki, membicarakan persoalan kongkret yang sedang dihadapi.
Sekarang terasa kuat sekali, dakwah masih berwatak penciptaan solidaritas di permukaan. Sekedar melecut manusia agar berakhlak pribadi yang terpuji, mengikuti kerangka ritual yang ditetapkan faham masing-masing, dan menjanjikan hadiah surga atau siksa neraka. Ditambah "acara tetap": ketakutan kepada serangan kebudayaan modern dan sejumlah bahaya lain yang dianggap akan menghancurkan keyakinan agama.
Hasil penelitian diatas, tentang sedikitnya warga masyarakat yang menyatakan hidup bertujuan amal dan pengabdian menunjukkan betapa salahnya 'agenda dakwah' yang disebutkan terdahulu itu. Ternyata tujuan dakwah itu sendiri belum menjadi tujuan hidup bermasyarakat. Kalau demikian, bukankah harus disadari - oleh para pemikir dan penentu kebjaksanaan keagamaan Islam kita - bahwa efektivitas dakwah masih harus diteliti?
Sabtu, 20 Maret 1982
Sumbangan untuk Kontestan Keempat?
Bangsa kita memang pandai mengalihkan arti suatu istilah yang sudah baku. Lihat saja kata ‘kontestan pemilu’, yang diartikan ketiga peserta dalam pemilihan umum 1982 ini: Golkar, PDI dan PPP (disusun berdasar Prioritas abjad, bukan nomor undian ). Padahal menurut pengertian aslinya, kontestan adalah mereka yang berlawanan merebut kemenangan terakhir dalam pertandingan.
Di negeri ini, menurut tatakrama Demokrasi Pancasila, pola seperti itu tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Mau menang sendiri, dengan mengalahkan orang lain. Kalau itu musuh politik, dapat dibenarkan .Golkar, PDI dan PPP ‘kan tidak demikian. Mereka kan “partner dalam kehidupan politik”. Bukan musuh. Karenanya , tujuan yang dianggap sesuai dengan tatakrama Demokrasi Pancasila adala “menarik suara sebanyak-banyaknya untuk mensukseskan pembangunan Nasional”.
Di negeri ini, menurut tatakrama Demokrasi Pancasila, pola seperti itu tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Mau menang sendiri, dengan mengalahkan orang lain. Kalau itu musuh politik, dapat dibenarkan .Golkar, PDI dan PPP ‘kan tidak demikian. Mereka kan “partner dalam kehidupan politik”. Bukan musuh. Karenanya , tujuan yang dianggap sesuai dengan tatakrama Demokrasi Pancasila adala “menarik suara sebanyak-banyaknya untuk mensukseskan pembangunan Nasional”.
Sabtu, 20 Februari 1982
Islam Kaset dan Kebisingannya
SUARA bising yang keluar dari kaset biasanya dihubungkan dengan musik kaum remaja. Rock ataupun soul, iringan musiknya dianggap tidak bonafide kalau tidak ramai.
Kalaupun ada unsur keagamaan dalam kaset, biasanya justru dalam bentuk yang lembut. Sekian buah baladanya Trio Bimbo, atau lagu-lagu rohani dari kalangan gereja. Sudah tentu tidak ada yang mau membeli kalau ada kaset berisikan musik agama yang berdentang-dentang, dengan teriakan yang tidak mudah dimengerti apa maksudnya.
Tetapi ternyata ada “persembahan” berirama, yang menampilkan suara lantang. Bukan musik keagamaan, tetapi justru bagian integral dari upacara keagamaan: berjenis-jenis seruan untuk beribadat, dilontarkan dari menara-menara masjid dan atap surau.
Kalaupun ada unsur keagamaan dalam kaset, biasanya justru dalam bentuk yang lembut. Sekian buah baladanya Trio Bimbo, atau lagu-lagu rohani dari kalangan gereja. Sudah tentu tidak ada yang mau membeli kalau ada kaset berisikan musik agama yang berdentang-dentang, dengan teriakan yang tidak mudah dimengerti apa maksudnya.
Tetapi ternyata ada “persembahan” berirama, yang menampilkan suara lantang. Bukan musik keagamaan, tetapi justru bagian integral dari upacara keagamaan: berjenis-jenis seruan untuk beribadat, dilontarkan dari menara-menara masjid dan atap surau.
Sabtu, 14 November 1981
Islam Kiri Warisan Nasser
Front Nasional Progresif di Mesir, sebenarnya tulang punggung perlawanan kaum kiri terhadap pemerintahan yang tiap hari tampak semakin teknokratis. Walau dipermukaan kelihatannya Partai Kerja Sosialis di bawah Ibrahim Shukri memiliki pengikut lebih banyak, ia tidak memiliki kohesi mantap seperti front tersebut. Gerakan dibawah piimpinan Khalid Muhyiddin itu jelas unsur-unsurnya - semuanya berasal dari kelompok-kelompok yang ‘jaya’ di masa pemerintahan mendiang Nasser.
Gerakan itu memiliki ideologi sosialistis yang yang lebih terurus secara konseptual. Bahwa mendiang Presiden Sadat berhasil mengebiri kekuatannya di lembaga perwakilan tingkat Pusat (Majelis Rakyat, Majlis al-Sha’b) antara lain dengan pencabutan hak-hak sipil Muhyiddin sendiri dan sejumlah pimpinan partainya, kenyataan bahwa Sadat sendiri merasa perlu berbuat seperti itu menunjukkan betapa potensial kekuatannya. Seperti kotak-katik atas ‘unsur’ PNI menunjukkan bahwa ia kekuatan dominan dalam PDI.
Gerakan itu memiliki ideologi sosialistis yang yang lebih terurus secara konseptual. Bahwa mendiang Presiden Sadat berhasil mengebiri kekuatannya di lembaga perwakilan tingkat Pusat (Majelis Rakyat, Majlis al-Sha’b) antara lain dengan pencabutan hak-hak sipil Muhyiddin sendiri dan sejumlah pimpinan partainya, kenyataan bahwa Sadat sendiri merasa perlu berbuat seperti itu menunjukkan betapa potensial kekuatannya. Seperti kotak-katik atas ‘unsur’ PNI menunjukkan bahwa ia kekuatan dominan dalam PDI.
Sabtu, 31 Oktober 1981
Yang Membuat dan Yang Dicatat
Dunia politik Amerika Serikat mempunyai kisah unik yang sering diulang-ulang. Seorang muda berbakat dan memiliki kepemimpinan potensial, berhasil meraih kedudukan anggota Konggres. Atau menjadi Senator negara bagian, kemudian menanjak menjadi senator Nasional. Setelah cukup lama, menjadi eksekutif dalam jabatan gubernur negara bagiannya. Pola Lokal, Nasional, kemudian kembali ke daerah, mematangkan kepribadiannya, hingga akhirnya ia di pandang potensial menjadi presiden.
Tetapi nasib menghendaki lain. Setelah begitu terkenal melalui beberapa jabatan, ia hilang. Tidak ada yang tahu dimana dia. Tidak tahunya ia menjadi wakil presiden - setelah kalah bersaing dengan orang-orang lain yang juga sama-sama potensial.
Tetapi nasib menghendaki lain. Setelah begitu terkenal melalui beberapa jabatan, ia hilang. Tidak ada yang tahu dimana dia. Tidak tahunya ia menjadi wakil presiden - setelah kalah bersaing dengan orang-orang lain yang juga sama-sama potensial.
Sabtu, 17 Oktober 1981
Sadat sebagai Politikus
Mendiang Presiden Sadat dikenal karena kenegarawanannya. Dua kali kenegarawanan itu diperlihatkan pada skala dunia: ketika mengambil keputusan berperang dengan Israel di tahun 1973 dan ketika memutuskan memulai prakarsa perdamaian. Karena kedua tindakan di ataslah Sadat terkenal di seluruh dunia, sebagai tokoh dengan popularitas global dan cakrawala yang menerawang jauh ke ufuk sejarah.
Namun jarang diketahui kapasitasnya sebagai politikus. Kalaupun dikenal, hanya sekilas—seperti dalam episode yang dimasukkan Ken Folett dalam novelnya yang terbaru, Key To Rebecca. Di sana digambarkan Sadat sebagai perwira muda Mesir yang mencoba menghubungi pihak Jerman di bawah pimpinan Marsekal Erwin Rommel, dalam rangka 'menyambut dari dalam' sekira pihak dari Jerman itu dapat mengalahkan bala tentera sekutu dan menduduki Kairo—sebelum pertempuran El-Alamein yang menentukan dalam Perang Dunia Kedua itu.
Digambarkan, betapa perwira Mesir dengan kebencian kepada Inggris itu, sewaktu ditangkap pihak Intel Sekutu karena menyembunyikan dan melindungi alat pemancar radio milik spion Jerman Alez Wolf, secara licik menggunakan peraturan militer Inggris untuk membebaskan diri.
Salah satu sebab kurangnya dikenal 'gaya politik' Sadat adalah kemampuan menyembunyikan perasaan dan menutupi pendirian politiknya. Ia sangat pendiam—di balik spontanitas senyum dan gaya penampilan yang diperlihatkannya di muka umum. Berjalan kaki berjam-jam mengelilingi kebun rumah tanpa sepatah katapun diucapkan kepada teman berjalannya, seperti diungkapkan sahabat karib Sadat, bekas menteri perencanaan Osman Ahmad Osman yang akhirnya menjadi besannnya. Juga sangat sabar—seperti dibuktikan oleh ketenangan sikapnya dihadapan provokasi dan tekanan (bahkan terkadang penghinaan) mendiang Presiden Nasser, yang kemudian digantikannya tahun 1969. Mungkin tidak kalah sabar dari Deng Xiao-Ping, orang terkuat RR China sekarang. Keduanya sama-sama emosional, dan bertemperamen panas, tetapi tahan terhadap gangguan dan jebakan—sambil merentang pemikiran bagaimana mencari balas di kemudian hari.
Hanya Deng seorang pendendam, sedang Sadat tidak. Enam belas tahun ia gunakan—sekaligus direndahkan martabatnya oleh Nasser—dalam berbagai kapasitas dan jabatan kenegaraan. Tetapi tak pernah sekalipun ia menampakkan kebencian kepada bekas atasannya itu. Keluarga Nasser diperlakukan masih dengan penuh hormat, bagai perlakuan terhadap isteri kepala degara dengan berbagai fasilitasnya.
Juga tak pernah ada cercaan atau sindiran di muka umum terhadap lawan politiknya yang telah tiada itu, dengan alasan formal jabatan kepresidenan adalah lambang yang tak patut direndahkan. Kalaupun ia mengajukan kritik, hanya secara tidak langsung—seperti penamaannya kepada kelompok Khaled Muhyiddin sebagai 'mereka yang ingin mengenakan mantel Nasser'.
Tetapi jauh lebih penting adalah kemahiran politik yang dimilikinya. Kemahiran untuk menunjukkan wajah moderat di saat Nasser melakukan persekusi dan 'tindakan pembersihan', tanpa terlalu jauh meriskir friksi terlalu besar dengan sang atasan. Kemahiran untuk menggunakan simbol-simbol meyakinkan dalam momentum psikologis yang diingininya, seperti terbukti dengan 'kemenangan tentara Mesir atas Israel dalam perang Oktober 1973'.
Juga kemahiran memanipulasi rasa kesejarahan (sense destiny) para pemimpin lain untuk kepentingannya sendiri seperti terlihat dalam 'paksaan halus'-nya atas presiden Jimmy Carter sewaktu perundingan Camp David—ia mempergunakan kesempatan 'menunjukkan sikap adilnya terhadap Bangsa Arab' dengan jalan menekan pihak Israel.
Juga kemahiran merencanakan dan melaksanakan tindakan politik yang sangat kompleks dan saling menutupi aspek-aspek negatif yang tak diingini, seperti penangkapan ....diri banyak agamawan dan komentator agama serta nasionalisasi 40 ribu masjid dan musholla. Tindakan tidak populer terhadap muslim militan itu 'dimbanginya' dengan penahanan rumah atas diri pemimpin Gereja Kristen Kopti, Paus Shenouda III. Persekusi terhadap 'Islam Ekstrem' dibungkus dengan dalih 'penertiban semua agamawan ekstrem'.
Mesir adalah bangsa yang berperadaban sangat tua. Tetapi juga dengan birokrasi yang sangat kaku, jumlah penduduk dengan konsentrasi tinggi di beberapa kota besar saja, dan lokasi geografis yang demikian strategis sebagai 'penghubung tiga benua Eropa, Asia, Afrika. Kombinasi seperti itu menuntut kemahiran politik tinggi dari para pemimpinnya, kalau mereka ingin bertahan cukup lama.
Seperti juga di Cina, Rusia dan Jepang, hanya dengan kemahiran politik sangat tinggi seorang pemimpin dapat lama bertahan pada kedudukan tertinggi. Tidak seperti banyak negara lain, yang dapat mentolelir pemimpin kelas dua asal mempunyai pembantu yang mempunyai kemahiran seperti itu—seperti Amerika Serikat dengan sederetan presidennya belakang ini: Eisenhower, Ford, Carter dan (tampaknya) Reagen.
Dalam tolok ukur kemahiran politik inilah harus diamati dan kemudian diperkirakan, kepemimpinan wakil presiden Mesir sekarang, Hosni Mubarak—yang dapat dipastikan akan menggantikan Sadat sebagai presiden dalam referendum dua bulan lagi. Orang baik (nice guy) dan pahlawan perang dalam Angkatan Udara ini belum diketahui setinggi mana kualitasnya sebagai politikus.
Bagaimanapun, ia membutuhkan kemahiran sangat tinggi untuk mengendalikan keadaan politik sepeninggal Sadat, apalagi dalam percaturan antara pihaknya sendiri—yang diwakili dari Sadat—dan kedua kelompok alternatif terkuat: Kaum Nasseris militer di bawah bekas panglima angkatan bersenjata Sa'ad Shazli (kini dalam pengasingan di Libya) dan kaum Nasseris sipil dalam Uni Front Progresif Nasional dengan ketua Khaled Muhyiddin.
Kalau itu tak dimilikinya, orang yang lebih mahirlah yang akan menggantikannya sebagai pemimpin Bangsa Mesir dalam waktu singkat saja. Reputasinya sebagai 'Pak Turut', yang hanya memiliki kebiasaaan di bidang politik luar negeri, belum dapat digunakan sebagai tolok ukur. Bukankah Sadat juga demikian dahulunya?
Namun jarang diketahui kapasitasnya sebagai politikus. Kalaupun dikenal, hanya sekilas—seperti dalam episode yang dimasukkan Ken Folett dalam novelnya yang terbaru, Key To Rebecca. Di sana digambarkan Sadat sebagai perwira muda Mesir yang mencoba menghubungi pihak Jerman di bawah pimpinan Marsekal Erwin Rommel, dalam rangka 'menyambut dari dalam' sekira pihak dari Jerman itu dapat mengalahkan bala tentera sekutu dan menduduki Kairo—sebelum pertempuran El-Alamein yang menentukan dalam Perang Dunia Kedua itu.
Digambarkan, betapa perwira Mesir dengan kebencian kepada Inggris itu, sewaktu ditangkap pihak Intel Sekutu karena menyembunyikan dan melindungi alat pemancar radio milik spion Jerman Alez Wolf, secara licik menggunakan peraturan militer Inggris untuk membebaskan diri.
Salah satu sebab kurangnya dikenal 'gaya politik' Sadat adalah kemampuan menyembunyikan perasaan dan menutupi pendirian politiknya. Ia sangat pendiam—di balik spontanitas senyum dan gaya penampilan yang diperlihatkannya di muka umum. Berjalan kaki berjam-jam mengelilingi kebun rumah tanpa sepatah katapun diucapkan kepada teman berjalannya, seperti diungkapkan sahabat karib Sadat, bekas menteri perencanaan Osman Ahmad Osman yang akhirnya menjadi besannnya. Juga sangat sabar—seperti dibuktikan oleh ketenangan sikapnya dihadapan provokasi dan tekanan (bahkan terkadang penghinaan) mendiang Presiden Nasser, yang kemudian digantikannya tahun 1969. Mungkin tidak kalah sabar dari Deng Xiao-Ping, orang terkuat RR China sekarang. Keduanya sama-sama emosional, dan bertemperamen panas, tetapi tahan terhadap gangguan dan jebakan—sambil merentang pemikiran bagaimana mencari balas di kemudian hari.
Hanya Deng seorang pendendam, sedang Sadat tidak. Enam belas tahun ia gunakan—sekaligus direndahkan martabatnya oleh Nasser—dalam berbagai kapasitas dan jabatan kenegaraan. Tetapi tak pernah sekalipun ia menampakkan kebencian kepada bekas atasannya itu. Keluarga Nasser diperlakukan masih dengan penuh hormat, bagai perlakuan terhadap isteri kepala degara dengan berbagai fasilitasnya.
Juga tak pernah ada cercaan atau sindiran di muka umum terhadap lawan politiknya yang telah tiada itu, dengan alasan formal jabatan kepresidenan adalah lambang yang tak patut direndahkan. Kalaupun ia mengajukan kritik, hanya secara tidak langsung—seperti penamaannya kepada kelompok Khaled Muhyiddin sebagai 'mereka yang ingin mengenakan mantel Nasser'.
Tetapi jauh lebih penting adalah kemahiran politik yang dimilikinya. Kemahiran untuk menunjukkan wajah moderat di saat Nasser melakukan persekusi dan 'tindakan pembersihan', tanpa terlalu jauh meriskir friksi terlalu besar dengan sang atasan. Kemahiran untuk menggunakan simbol-simbol meyakinkan dalam momentum psikologis yang diingininya, seperti terbukti dengan 'kemenangan tentara Mesir atas Israel dalam perang Oktober 1973'.
Juga kemahiran memanipulasi rasa kesejarahan (sense destiny) para pemimpin lain untuk kepentingannya sendiri seperti terlihat dalam 'paksaan halus'-nya atas presiden Jimmy Carter sewaktu perundingan Camp David—ia mempergunakan kesempatan 'menunjukkan sikap adilnya terhadap Bangsa Arab' dengan jalan menekan pihak Israel.
Juga kemahiran merencanakan dan melaksanakan tindakan politik yang sangat kompleks dan saling menutupi aspek-aspek negatif yang tak diingini, seperti penangkapan ....diri banyak agamawan dan komentator agama serta nasionalisasi 40 ribu masjid dan musholla. Tindakan tidak populer terhadap muslim militan itu 'dimbanginya' dengan penahanan rumah atas diri pemimpin Gereja Kristen Kopti, Paus Shenouda III. Persekusi terhadap 'Islam Ekstrem' dibungkus dengan dalih 'penertiban semua agamawan ekstrem'.
Mesir adalah bangsa yang berperadaban sangat tua. Tetapi juga dengan birokrasi yang sangat kaku, jumlah penduduk dengan konsentrasi tinggi di beberapa kota besar saja, dan lokasi geografis yang demikian strategis sebagai 'penghubung tiga benua Eropa, Asia, Afrika. Kombinasi seperti itu menuntut kemahiran politik tinggi dari para pemimpinnya, kalau mereka ingin bertahan cukup lama.
Seperti juga di Cina, Rusia dan Jepang, hanya dengan kemahiran politik sangat tinggi seorang pemimpin dapat lama bertahan pada kedudukan tertinggi. Tidak seperti banyak negara lain, yang dapat mentolelir pemimpin kelas dua asal mempunyai pembantu yang mempunyai kemahiran seperti itu—seperti Amerika Serikat dengan sederetan presidennya belakang ini: Eisenhower, Ford, Carter dan (tampaknya) Reagen.
Dalam tolok ukur kemahiran politik inilah harus diamati dan kemudian diperkirakan, kepemimpinan wakil presiden Mesir sekarang, Hosni Mubarak—yang dapat dipastikan akan menggantikan Sadat sebagai presiden dalam referendum dua bulan lagi. Orang baik (nice guy) dan pahlawan perang dalam Angkatan Udara ini belum diketahui setinggi mana kualitasnya sebagai politikus.
Bagaimanapun, ia membutuhkan kemahiran sangat tinggi untuk mengendalikan keadaan politik sepeninggal Sadat, apalagi dalam percaturan antara pihaknya sendiri—yang diwakili dari Sadat—dan kedua kelompok alternatif terkuat: Kaum Nasseris militer di bawah bekas panglima angkatan bersenjata Sa'ad Shazli (kini dalam pengasingan di Libya) dan kaum Nasseris sipil dalam Uni Front Progresif Nasional dengan ketua Khaled Muhyiddin.
Kalau itu tak dimilikinya, orang yang lebih mahirlah yang akan menggantikannya sebagai pemimpin Bangsa Mesir dalam waktu singkat saja. Reputasinya sebagai 'Pak Turut', yang hanya memiliki kebiasaaan di bidang politik luar negeri, belum dapat digunakan sebagai tolok ukur. Bukankah Sadat juga demikian dahulunya?
Langganan:
Postingan (Atom)