Sempal adalah kata kerja dari bahasa Jawa. Artinya patah dan terpisahnya dahan dari batang pohon, atau cabang dari dahan. Dengan bahasa Indonesia, sulit untuk menamai gerakan Islam yang memisahkan diri dari batang tubuh umat seagama. Kata ‘pecahan’, umpamanya, mengandung pengertian sama besar antara yang memisahkan diri dan batang tubuh umat. Karenanya, digunakan kata ‘sempalan’ untuk menunjuk kepada fenomena, yang dalam bahasa Inggris disebut splinter groups.
Jumlahnya banyak, berukuran kecil-kecil, dan ada kecenderungan untuk memecah diri terus menerus dalam sebuah proses reaksi bersambung. Fenomena ini memunculkan diri dalam semakin banyaknya kelompok yang keras dan militan di kalangan muslimin berusia muda dimana-mana.
Sabtu, 25 April 1981
Sabtu, 28 Maret 1981
Pada Usia Sepuluh Tahun
Beberapa waktu yang lalu, sewaktu sekian halaman majalah ini ’dihitamkan’, segera orang menjadi ribut. Sehingga akhirnya muncul sebuah ‘kuis imajiner’ sebagai berikut:
T: Mengapakah TEMPO dibuat hitam seperti itu?
J: Karena reportase soal tukang santet dan bromocorah di Jember
T: Siapakah yang memerintahkan pengitaman itu?
J: Tukang santet dan bromocorah Jakarta
Sabtu, 09 Agustus 1980
Sederhana, Syahdu
Bangunan berbentuk segi delapan itu tidaklah tinggi. Tidak pula berukuran besar. Paling tinggi sepuluh meter. Garis tengah penampangnya tidak lebih dari duapuluh lima meter. Dikitari halaman rumput biasa tanpa taman, dindingnya terbuat dari batu bata merah tanpa ‘plester kapur’ (apalagi dengan hiasan rural atau bas relief ) tidak ada tanda-tanda kemegahan apa pun dipasang di luar.
Pada tengah atapnya ada atrium yang menjadi jalan masuknya cahaya matahari ke alam ruangan, cahaya itu kemudian disangga oleh sebuah reflektor penyangga yang digantungkan pada dasar atap dan bagian atas dinding dalam ruangan utama. Pantulan cahaya yang didapat adalah sinar lembut yang tidak membuat mata silau.
Pada tengah atapnya ada atrium yang menjadi jalan masuknya cahaya matahari ke alam ruangan, cahaya itu kemudian disangga oleh sebuah reflektor penyangga yang digantungkan pada dasar atap dan bagian atas dinding dalam ruangan utama. Pantulan cahaya yang didapat adalah sinar lembut yang tidak membuat mata silau.
Sabtu, 01 Juli 1978
Agamawan dan Pembangunan Desa
WALAUPUN hampir semua orang mengutarakan pengakuan lahiriyah akan adanya peranan bagi agama dalam pembangunan kita, ternyata masih cukup besar juga keraguan yang terkandung dalam hati: apakah memang benar demikian halnya?
Skeptisisme itu muncul karena beberapa sebab. Ada yang karena sulitnya pembuktian secara ilmiah akan peranan itu, walaupun diakui juga bahwa bagaimana pun juga agama tentu mempengaruhi pola tingkah laku pemeluknya, termasuk dalam masa di mana mereka sedang membangun. Kesulitannya adalah bagaimana mengenal agama sebagai pembentuk sikap hidup yang membangun itu sendiri. Kesulitan ini akhirnya menumbuhkan keragu-raguan akan adanya hubungan langsung antara agama dan pembangunan.
Skeptisisme itu muncul karena beberapa sebab. Ada yang karena sulitnya pembuktian secara ilmiah akan peranan itu, walaupun diakui juga bahwa bagaimana pun juga agama tentu mempengaruhi pola tingkah laku pemeluknya, termasuk dalam masa di mana mereka sedang membangun. Kesulitannya adalah bagaimana mengenal agama sebagai pembentuk sikap hidup yang membangun itu sendiri. Kesulitan ini akhirnya menumbuhkan keragu-raguan akan adanya hubungan langsung antara agama dan pembangunan.
Langganan:
Postingan (Atom)